Selasa, 19 April 2011

Extremist Jews storm Al-Aqsa mosque

Extremist Jews storm Al-Aqsa mosque

West Bank, (Pal Telegraph)- Israeli police allowed yesterday dozens of Jews to enter Al-Aqsa mosque in the occupied Jerusalem, restricting the movement of the Palestinian Jerusalemites.

Local sources told that, Israeli occupation forces completely isolated the city and intensified their security procedures by erecting a number of checkpoints as they were preparing to the Passover holiday which will remain for the 27th of this month..

Sources added that groups of Jews invaded the old town, harassed citizens , and vandalized their properties while they were heading to Al-Buraq courtyard to perform their rituals to mark the Passover day.

The Jews guarded by Israeli police passed from Al-Magharba gate and roamed the courtyards and squares of Al-Aqsa mosque, provoking Muslim prayers, according to witnesses .

Occupation police closed yesterday many streets of the old town, preventing citizens in and out of the area and allowed free movement to only vehicles that were carrying settlers .


Facebook hapus halaman intifada


Intifada facebook

Meski ditutup tetapi halaman serupa masih bermunculan di Facebook

Facebook menghapus sebuah halaman yang mengajak warga Palestina bangkit melawan Israel setelah lebih dari 350.000 orang ikut bergabung dalam halaman tersebut.

Halaman yang muncul di situs jejaring sosial tersebut bernama Third Palestinian Intifada. Halaman ini dihilangkan karena mengandung ajakan untuk melakukan kekerasan, demikian pernyataan seorang juru bicara Facebook.


Halaman The Third Palestinian Intifada mengajak sebuah aksi setelah shalat Jumat, 15 Mei mendatang.

"Hari penghakiman akan membawa kami sebagai muslim untuk membunuh semua Yahudi,'' demikian kutipan dari ajakan di halaman tersebut.

Meski telah ditutup tetapi kantor berita AFP melaporkan kalau sudah ada tiga halaman baru yang serupa muncul di Facebook dengan lebih dari 7.000 orang telah bergabung di dalamnya.

Facebook menyatakan halaman itu sebelumnya hanya berisi ajakan untuk mengadakan aksi damai, meski menggunakan istilah "intifada" yang berarti pemberontakan dengan kekerasan.

"Tetapi belakangan banyak komentar yang justru mengajak untuk melakukan kekerasan,'' kata Andrew Noyes, juru bicara Facebook.

Sebelumnya Israel mengungkapkan kekhawatiran atas keberadaan halaman itu dengan pernyataan kalau Facebook membantu penyebaran aksi protes di negara-negara Arab.

Dalam sebuah surat kepada pendiri Facebook Mark Zuckerberg, Menteri Informasi Israel Yuli Edelstein mengatakan halaman tersebut mengandung "hasutan yang liar'' dengan ajakan membunuh Yahudi dan membicarakan soal ''pembebasan'' Yerusalem melalui kekerasan.

"Saya meminta Zuckerberg kalau garis batas antara kebebasan berekspresi dan hasutan dan kekerasan jangan sampai terlampaui,'' katanya.

Demetri Deliani, seorang anggota partai Fatah Palestina, mengejek permintaan Israel tersebut.

"Sepertinya Menteri Yuli Edelstein perlu belajar lagi dalam hal hak asasi manusia dan kebebebasan berekspresi karena dia tidak tahu mengenai penghormatan bagi opini setiap orang di dunia,'' katanya kepada kantor berita Palestina, Wafa.